Pages

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, March 21, 2012

Langit Makin Mendung

Oleh Kipandjikusmin


LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.
“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.”
Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw..

Friday, February 3, 2012

Prahara Kopi Pekat di Pagi Bisu

Self Portrait, Jenny Saville
Saya bekerja di toko roti di seberang jalan itu. Sudah lama saya mengenal Anda. Siapa yang tidak kenal pengarang seperti Anda. Saya membaca semua novel Anda. Novel terakhir terus mengusik pikiran saya. Tampaknya semua orang yang membaca akan selalu ingin melanjutkan ceritanya dalam imajinasi. Saya ingin melanjutkannya dalam kehidupan saya sendiri.
Di toko roti tempat saya bekerja itu ada seorang bos yang selalu baik kepada saya. Suatu ketika dia mengajak saya makan siang. Dia bercerita tentang kehidupannya, tentang masa lalunya. Saya mendengarkan semuanya sampai ketika suasana sudah tidak memungkinkan lagi untuk bercerita dan mendengarkan. Sejak saat itu, tawaran makan siang atau sekedar minum kopi sering datang.

Dering

Dress Blues
Dan ini adalah kali yang ketiga kau menerima sms misterius itu. “Telah kutitipkan diriku di asap yang sebentar kemudian mengudara,” demikian bunyi sms dengan nomor pengirim 0815 sekian-sekian. Belum lama berselang ketika kau mulai menyusuri setiap lorong kenanganmu tentang nomor-nomor hp, hpmu kembali berdering membawa pesan pendek yang tidak kau mengerti. Kau buka file nama-nama sahabatmu, tidak ada nomor 0815 sekian-sekian di sana. Kau telusuri daftar rekan kerja, pun nihil hasilnya. Dan kau merasa tidak perlu menghitung nomor-nomor bekas pacarmu, jelas nomor itu bukan nomor mereka. Lalu isi pesan itu, ah rasa-rasanya kau baru kali ini menerima pesan pendek yang terlalu sarat dengan misteri.